PADANG
Batik Tanah Liek selaku batik cirikhas Minangkabau harus semakin dilestarikan dan dikembangkan di Sumatra Barat, nasional dan internasional.
Tentu batik ini harus menjadi tuan rumah di rumah sendiri. Kepala daerah, perantau, pengusaha dan tokoh masyarakat harus bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelestarian dan pengembangan kerajinan tenunan asli Sumbar tersebut,
Hal itu dikatakan perantau Ari Azwar Anas yang juga anak mantan gubernur Sumbar, Azwar Anas ketika meninjau pembuatan dan penjualan Batik Tanah Liek di Jln Aru No.8 Padang baru-baru ini.
Disebutkannya, Batik Tanah Liek ini batik dari Minang yang kualitasnya boleh dikatakan bisa menggalahkan batik Jawa. Namun, karena minimnya perhatian kepala daerah dan anggota legislatif terhadap pelestarian dan pengembangan Batik Tanah Liek ini maka proses perkembangannya tak secepat Batik Jawa.
"Saya sudah sering melihat dan mengunakan Batik Jawa. Namun, ketika melihat dan menggunakan Batik Tanah Liek asli dari Ranah Minang ini terasa agak jauh berbeda,"ujar Ary yang juga pengusaha tersebut kepada Sumbar Terkini.
Menurutnya, Batik Tanah Liek ini memiliki kekhasan tersendiri. Mulai dari motifnya yang mencirikhaskan Minangkabau hingga bahannya lembut, halus dan dingin.
Bila mengunakannya, terasa suatu kebanggaan tersendiri selaku orang Minang. Dia menilai, Batik Tanah Liek ini tinggal diberi sentuhan sedikit lagi maka posisinya akan bisa lebih melejit dibandingkan Batik Jawa.
"Dia mengimbau kepedulian kepala daerah untuk mengunakan wewenangnya lebih mengembangkan Batik Tanah Liek. Jadikan Batik Tanah Liek sebagai pakaian seragam dinas diantara pakaian dinas yang ada saat ini,"ujarnya.
Dia memang mendapatkan informasi sudah ada imbauan dari kepala daerah untuk mengunakan Batik Tanah Liek tersebut kepada PNS, namun baru sebatas imbauan belum penegasan.
Yang sangat diperlukan saat ini, penegasan dari kepala daerah bagaimana dimulai digunakan oleh PNS di Sumbar. Dengan sendirinya, masyarakat lain akan mengunakan.
Dengan begitu, Batik Tanah Liek bisa menjadi tuan rumah di rumah sendiri.
Ditambahkannya, langkah yang diambil dengan mengembangkan Batik Tanah sangat sejalan dalam pengembangan menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dalam melindungi dan memajukan produk lokal.****
Batik Tanah Liek selaku batik cirikhas Minangkabau harus semakin dilestarikan dan dikembangkan di Sumatra Barat, nasional dan internasional.
Tentu batik ini harus menjadi tuan rumah di rumah sendiri. Kepala daerah, perantau, pengusaha dan tokoh masyarakat harus bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelestarian dan pengembangan kerajinan tenunan asli Sumbar tersebut,
Hal itu dikatakan perantau Ari Azwar Anas yang juga anak mantan gubernur Sumbar, Azwar Anas ketika meninjau pembuatan dan penjualan Batik Tanah Liek di Jln Aru No.8 Padang baru-baru ini.
Disebutkannya, Batik Tanah Liek ini batik dari Minang yang kualitasnya boleh dikatakan bisa menggalahkan batik Jawa. Namun, karena minimnya perhatian kepala daerah dan anggota legislatif terhadap pelestarian dan pengembangan Batik Tanah Liek ini maka proses perkembangannya tak secepat Batik Jawa.
"Saya sudah sering melihat dan mengunakan Batik Jawa. Namun, ketika melihat dan menggunakan Batik Tanah Liek asli dari Ranah Minang ini terasa agak jauh berbeda,"ujar Ary yang juga pengusaha tersebut kepada Sumbar Terkini.
Menurutnya, Batik Tanah Liek ini memiliki kekhasan tersendiri. Mulai dari motifnya yang mencirikhaskan Minangkabau hingga bahannya lembut, halus dan dingin.
Bila mengunakannya, terasa suatu kebanggaan tersendiri selaku orang Minang. Dia menilai, Batik Tanah Liek ini tinggal diberi sentuhan sedikit lagi maka posisinya akan bisa lebih melejit dibandingkan Batik Jawa.
"Dia mengimbau kepedulian kepala daerah untuk mengunakan wewenangnya lebih mengembangkan Batik Tanah Liek. Jadikan Batik Tanah Liek sebagai pakaian seragam dinas diantara pakaian dinas yang ada saat ini,"ujarnya.
Dia memang mendapatkan informasi sudah ada imbauan dari kepala daerah untuk mengunakan Batik Tanah Liek tersebut kepada PNS, namun baru sebatas imbauan belum penegasan.
Yang sangat diperlukan saat ini, penegasan dari kepala daerah bagaimana dimulai digunakan oleh PNS di Sumbar. Dengan sendirinya, masyarakat lain akan mengunakan.
Dengan begitu, Batik Tanah Liek bisa menjadi tuan rumah di rumah sendiri.
Ditambahkannya, langkah yang diambil dengan mengembangkan Batik Tanah sangat sejalan dalam pengembangan menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dalam melindungi dan memajukan produk lokal.****


Assalamu Alaikum wr-wb, Saya ingin berbagi cerita kepada anda, Bahwa dulunya saya ini cuma seorang Honorer di sekolah dasar jawa timur, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 30 jt namun hasilnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah,namun teman saya memberikan no tlp Bpk Drs Sulardi MM yang bekerja di BKN pusat yang di kenalnya di jakarta dan juga mengurusnya, saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, alhamdulillah SK saya akhirnya keluar, sy sadar kalau tdk ada pegangan dr pst langsung meman sulit, itu adalah kisa nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya Hubungi saja Bpk Drs.Sulardi MM Hp:085395881177 Wassalm Nirwana bakri.
ReplyDelete